6/365

Aku tak pernah ingin jadi merpati

Aku hanya ingin jadi angin

dirasa namun tak terlihat,

sedikit nyentrik namun aku mulai menyerah dengan impian ku


Aku cukup lelah untuk berdiri

aku memilih duduk namun suara itu mendadak menyerang

aku berteriak namun keramaian tak mengusikku, 

seolah berkata bahwa aku gila


dari penolakan aku belajar memaknai diam

dan dari diam aku belajar menikmati kesunyian,

bagiku tidak seburuk itu..

ini hanya masalah waktu saja..


saat aku terbiasa dengan kesunyian suara-suara itu kembali mengusik

aku menangis, merongrong minta tolong seperti anjing yang kesakitan

namun mereka memukulkan tongkatnya ke kepalaku 

sakit di badan tak sebanding dengan sakit yang kurasa


aku menarik diriku perlahan,

berlari tanpa perduli apa yang terjadi... ku sudah tak perduli

ku sudah muak..

muak dengan semuanya...

aku ingin bebas tanpa adanya penolakan..


dalam tangis kutemukan sahabat baru,

sebuah pisau tajam nan kilat

sebuah teman impian yang kudambakan selama ini 

kau tau, dia memang terbaik buat ku

 

saat aku di dera kesepian goresan-goresan yang dia torehkan mulai mengobati segalanya..

aku pulih "saat itu"

aku bangkit "saat itu"

tiada yang tau... dan aku pun jengah untuk memberi tahu,,

 

biarkan saja aku terbiasa dengan hal ini

mungkin memang sudah waktunya,...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemana Hukum Negara?